Attractions

Gedung Sate

Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda atau markah tanah Kota Bandung yang tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, namun juga seluruh Indonesia bahkan model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda-tanda kota di Jawa Barat. Misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.
Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda itu disebut Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum pada tanggal 27 Juli 1920, merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir.J.Gerber, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng, diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok, yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung).

Selama kurun waktu 4 tahun pada bulan September 1924 berhasil diselesaikan pembangunan induk bangunan utama Gouverments Bedrijven, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf dan Perpustakaan.
Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara.
Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate.

Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan Jan Wittenberg dua arsitek Belanda, yang mengatakan "langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa".
D. Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, "Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia".
Ir. H.P.Berlage, sewaktu kunjungan ke Gedung Sate April 1923, menyatakan, "Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis". Seperti halnya gaya arsitektur Italia pada masa renaiscance terutama pada bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan mirip atap meru atau pagoda. Masih banyak lagi pendapat arsitek Indonesia yang menyatakan kemegahan Gedung Sate misalnya Slamet Wirasonjaya, dan Ir. Harnyoto Kunto.
Kuat dan utuhnya Gedung Sate hingga kini, tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai. Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi bangunan Gedung Sate menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik.
Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².
Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate.
Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.
Dalam perjalanannya semula diperuntukkan bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum, bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, sehingga digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Tanggal 3 Desember 1945 terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda itu, dibuatkan tugu dari batu yang diletakkan di belakang halaman Gedung Sate. Atas perintah Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Desember 1970 Tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate.
Gedung Sate sejak tahun 1980 dikenal dengan sebutan Kantor Gubernur karena sebagai pusat kegiatan Pemerintah Propinsi Jawa Barat, yang sebelumnya Pemerintahaan Propinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung.
Ruang kerja Gubernur terdapat di lantai II bersama dengan ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah, Para Assisten dan Biro. Saat ini Gubernur di bantu oleh tiga Wakil Gubernur yang menangani Bidang Pemerintahan, Bidang Ekonomi dan Pembangunan, serta Bidang Kesejahteraan Rakyat, seorang Sekretaris Daerah dan Empat Asisten yaitu Asisten Ketataprajaan, Asisten Administrasi Pembangunan, Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi.
Namun tidak seluruh Asisten menempati Gedung Sate. Asisten Kesejahteraan Sosial dan Asisten Administrasi bersama staf menempati Gedung Baru.
Di bagian timur dan barat terdapat dua ruang besar yang akan mengingatkan pada ruang dansa (ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa. Ruangan ini lebih sering dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur, sering digunakan kegiatan resmi. Di sekeliling kedua aula ini terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa Biro dengan Stafnya.
Paling atas terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate, lantai ini tidak dapat dilihat dari bawah, untuk menuju ke lantai teratas menggunakan Lift atau dengan menaiki tangga kayu.
Kesempurnaan megahnya Gedung Sate dilengkapi dengan Gedung Baru yang mengambil sedikit gaya arsitektur Gedung Sate namun dengan gaya konstektual hasil karya arsitek Ir.Sudibyo yang dibangun tahun 1977 diperuntukkan bagi para Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Lembaga Legislatif Daerah.
Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki.
Keindahan Gedung Sate dilengkapi dengan taman disekelilingnya yang terpelihara dengan baik, tidak heran bila taman ini diminati oleh masyarakat kota Bandung dan para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Keindahan taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang bernuansakan kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik artis lokal maupun artis nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri bahkan foto pasangan pengantin.
Khusus di hari minggu lingkungan halaman Gedung Sate dijadikan pilihan tempat sebagian besar masyarakat untuk bersantai, sekedar duduk-duduk menikmati udara segar kota Bandung atau berolahraga ringan.
Membandingkan Gedung Sate dengan bangunan-bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di banyak ibukota negara sepertinya tidak berlebihan. Persamaannya semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan menara sentral yang megah. Terlebih dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif mirip dengan Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat. Dapat dikatakan Gedung Sate adalah "Gedung Putih"nya kota Bandung.

 

Museum Geologi

Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus 2000. Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Kesemuanya itu dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.
Masa Penjajahan Belanda Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka, pada tahun 1850, dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral.
Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.
Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.

Riwayat

Masa Penjajahan Jepang
Sebagai akibat dari kekalahan pasukan Belanda dari pasukan Jepang pada perang dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw berakhir. Letjen. H. Ter Poorten (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan teritorial Indonesia kepada Letjen. H. Imamura (Panglima Tentara Jepang) pada tahun 1942. Penyerahan itu dilakukan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, Gedung Geologisch Laboratorium berpindah kepengurusannya dan diberi nama KOGYO ZIMUSHO. Setahun kemudian, berganti nama menjadi CHISHITSU CHOSACHO.
Selama masa pendudukan Jepang, pasukan Jepang mendidik dan melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi: PETA (Pembela Tanah Air) dan HEIHO (pasukan pembantu bala tentara Jepang pada Perang Dunia II). Laporan hasil kegiatan pada masa itu tidak banyak yang ditemukan, karena banyak dokumen (termasuk laporan hasil penyelidikan) yang dibumihanguskan tatkala pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana pada awal tahun 1945.

Masa Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pengelolaan Museum Geologi berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG/1945-1950). Pada tanggal 19 September 1945, pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat dan Inggris yang diboncengi oleh Netherlands Indiës Civil Administration (NICA) tiba di Indonesia. Mereka mendarat di Tanjungpriuk, Jakarta. Di Bandung, mereka berusaha menguasai kembali kantor PDTG yang sudah dikuasai oleh para pemerintah Indonesia. Tekanan yang dilancarkan oleh pasukan Belanda memaksa kantor PDTG dipindahkan ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8, Bandung, pada tanggal 12 Desember 1945. Kepindahan kantor PDTG rupanya terdorong pula oleh gugurnya seorang pengemudi bernama Sakiman dalam rangka berjuang mempertahankan kantor PDTG. Pada waktu itu, Tentara Republik Indonesia Divisi III Siliwangi mendirikan Bagian Tambang, yang tenaganya diambil dari PDTG. Setelah kantor di Rembrandt Straat ditinggalkan oleh pegawai PDTG, pasukan Belanda mendirikan lagi kantor yang bernama Geologische Dienst ditempat yang sama.
Di mana-mana terjadi pertempuran. Maka, sejak Desember 1945 sampai dengan Desember 1949, yaitu selama 4 tahun berturut-turut, kantor PDTG terlunta-lunta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Pemerintah Indonesia berusaha menyelamatkan dokumen-dokumen hasil penelitian geologi. Hal ini menyebabkan dokumen-dokumen tersebut harus berpindah tempat dari Bandung, ke Tasikmalaya, Solo, Magelang, Yogyakarta, dan baru kemudian, pada tahun 1950 dokumen-dokumen tersebut dapat dikembalikan ke Bandung.
Dalam usaha penyelamatan dokumen-dokumen tersebut, pada tanggal 7 Mei 1949, Kepala Pusat Jawatan Tambang dan Geologi, Arie Frederic Lasut, telah diculik dan dibunuh tentara Belanda. Ia telah gugur sebagai kusuma bangsa di Desa Pakem, Yogyakarta.
Sekembalinya ke Bandung, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI. Hal ini terbukti pada tahun 1960, Museum Geologi dikunjungi oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno.
Pengelolaan Museum Geologi yang semula berada dibawah PUSAT DJAWATAN TAMBANG DAN GEOLOGI (PDTG), berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 - 2005), Pusat Survei Geologi (sejak akhir tahun 2005 hingga sekarang)

Seiring dengan perkembangan zaman, pada tahun 1999 Museum Geologi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang senilai 754,5 juta Yen untuk direnovasi. Setelah ditutup selama satu tahun, Museum Geologi dibuka kembali pada tanggal 20 Agustus 2000. Pembukaannya diresmikan oleh Wakil Presiden RI pada waktu itu, Ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh Menteri Pertambangan dan Energi Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan penataan yang baru ini peragaan Museum Geologi terbagi menjadi 3 ruangan yang meliputi Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, serta Geologi dan Kehidupan Manusia. Sedangkan untuk koleksi dokumentasi, tersedia sarana penyimpan koleksi yang lebih memadai. Diharapkan pengelolaan contoh koleksi di Museum Geologi akan dapat lebih mudah diakses oleh pengguna baik peneliti maupun grup industri.
Sejak tahun 2002 Museum Geologi yang statusnya merupakan Seksi Museum Geologi, telah dinaikkan menjadi UPT Museum Geologi. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, dibentuklah 2 seksi dan 1 SubBag yaitu Seksi Peragaan, Seksi Dokumentasi, dan SubBag Tatausaha. Guna lebih mengoptimalkan perananya sebagai lembaga yang memasyarakatkan ilmu geologi, Museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatan survei penelitian untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.
Pergeseran fungsi museum, seirama dengan kemajuan teknologi, menjadikan museum geologi sebagai :
Tempat pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan bumi dan usaha pelestariannya.
Tempat orang melakukan kajian awal sebelum penelitian lapangan. Dimana Museum Geologi sebagai pusat informasi ilmu kebumian yang menggambarkan keadaan geologi bumi Indonesia dalam bentuk kumpulan peraga.
Objek geowisata yang menarik.

Pembagian Lantai dan Ruangan

Museum Geologi terbagi menjadi beberapa ruang pamer yang menempati lantai I dan II. Berikut ini merupakan ruangan-ruangan yang berada di kedua lantai Museum Geologi serta fungsi dan isi dari ruangan tersebut.

Lantai I
Terbagi menjadi 3 ruang utama : Ruang orientasi di bagian tengah, Ruang Sayap Barat dan Ruang Sayap Timur. Ruang Orientasi berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian. Sementara, Ruang Sayap Barat, dikenal sebagai Ruang Geologi Indonesia, yang terdiri dari beberapa bilik yang menyajikan informasi tentang :
Hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya.
Tatanan tektonik regional yang membentuk geologi Indonesia; diujudkan dalam bentuk maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif
Keadaan geologi sumatera,Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya
Fosil fosil serta sejarah manusia menurut evolusi Darwin juga terdapat di sini
Selain maket dan panel-panel informasi, masing-masing bilik di ruangan ini juga memamerkan beragam jenis batuan (beku, sedimen, malihan) dan sumber daya mineral yang ada di setiap daerah. Dunia batuan dan mineral menempati bilik di sebelah baratnya, yang memamerkan beragam jenis batuan, mineral dan susunan kristalografi dalam bentuk panel dan peraga asli. Masih di dalam ruangan yang sama, dipamerkan kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk jenis-jenis peralatan/perlengkapan lapangan, sarana pemetaan dan penelitian serta hasil akhir kegiatan seperti peta (geolologi, geofisika, gunung api, geomorfologi, seismotektonik dan segalanya) dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakan data dan informasi geologi Indonesia. Ujung ruang sayap barat adalah ruang kegunung apian, yang mempertunjukkan keadaan beberapa gunungapi aktif di Indonesia seperti : Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu. Selain panel-panel informasi ruangan ini dilengkapi dengan maket kompleks Gunungapi Bromo-Kelut-Semeru. Beberapa contoh batuan hasil kegiatan gunung api tertata dalam lemari kaca.
Ruang Sayap Timur Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitiv pun belum ditemukan. Beberapa miliar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, yang keberadaan terekam dalam bentuk fosil Reptilia bertulang-belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu) diperagakan dalam bentuk replika fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton. Kehidupan awal di bumi yang dimulai sekitar 3 miliar tahun lalu selanjutnya berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Jejak evolusi mamalia yang hidup pada zaman Tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan Kuarter (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) di Indonesia terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang ditemukan pada lapisan tanah di beberapa tempat khususnya di Pulau Jawa.
Kumpulan fosil tengkorak manusia-purba yang ditemukan di Indonesia (Homo erectus P. VIII) dan di beberapa tempat lainnya di dunia terkoleksi dalam bentuk replikanya. Begitu pula dengan artefak yang dipergunkan, yang mencirikan perkembangan kebudayaan-purba dari waktu ke waktu. Penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran (Solo, Jawa Tengah), Trinil dan Mojokerto (Jawa Timur) yang sangat berarti dalam pengungkap sejarah dan evolusi manusia-purba diperagakan dalam bentuk panel dan maket.
Sejarah pembentukan Danau Bandung yang melegenda itu ditampilkan dalam bentuk panel di ujung ruangan. Fosil ular dan ikan yang ditemukan pada lapisan tanah bekas Danau Bandung serta artefak diperagakan dalam bentuk aslinya. Artefak yang terkumpul dari beberapa tempat di pinggiran Danau Bandung menunjukkan bahwa sekitar 6000 tahun lalu danau tersebut pernah dihuni oleh manusia prasejarah. Informasi lengkap tentang fosil dan sisa-sisa kehidupan masa lalu ditempatkan pada bilik tersendiri di Ruang Sejarah Kehidupan. Informasi yang disampaikan diantaranya adalah proses pembentukan fosil, termasuk batubara dan minyak bumi, selain keadaan lingkungan-purba.

Lantai II
Terbagi menjadi 3 ruangan utama: ruang barat, ruang tengah dan ruang timur
Ruang barat (dipakai oleh staf museum)
Sementara ruang tengah dan ruang timur di lantai II yang digunakan untuk peragaan dikenal sebagai ruang geologi untuk kehidupan manusia.
Ruang Tengah Berisi maket pertambangan emas terbesar di dunia, yang terletak di Pegunungan Tengan Irian Jaya. Tambang terbuka Gransberg yang mempunyai cadangan sekitar 1,186 miliar ton; dengan kandungan tembaga 1,02%, emas 1,19 gram/ton dan perak 3 gram/ton. Gabungan beberapa tambang terbuka dan tambang bawahtanah aktif di sekitarnya memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 miliar ton. Bekas Tambang Ertsberg (Gunung Bijih) di sebelah tenggara Grasberg yang ditutup pada tahun 1988 merupakan situs geologi dan tambang yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan menjadi objek geowisata yang menarik. Beberapa contoh batuan asal Irian Jaya (Papua) tertata dan terpamer dalam lemari kaca di sekitar maket. Miniatur menara pemboran minyak dan gas bumi juga diperagakan di sini.
Ruang Timur Terbagi menjadi 7 ruangan kecil, yang kesemuanya memberikan informasi tentang aspek positif dan negatif tataan geologi bagi kehidupan manusia, khususnya di Indonesia.
Ruang 1 menyajikan informasi tentang manfaat dan kegunaan mineral atau batu bagi manusia, serta panel gambar sebaran sumberdaya mineral di Indonesia.
Ruang 2 menampilkan rekaman kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral
Ruang 3 berisi informasi tentang pemakaian mineral dalam kehidupan sehari-hari, baik secara tradisional maupun modern.
Ruang 4 menunjukkan cara pengolahan dan pengelolaan komoditi mineral dan energi
Ruang 5 memaparkan informasi tentang berbagai jenis bahaya geologi (aspek negatif) seperti tanah longksor, letusan gunung api dan sebagainya.
Ruang 6 menyajikan informasi tentang aspek positif geologi terutama berkaitan dengan gejala kegunungapian.
Ruang 7 menjelaskan tentang sumberdaya air dan pemanfaatannya, juga pengaruh lingkungan terhadap kelestarian sumberdaya tersebut.

 

Museum Konfrensi Asia-Afrika

Indonesia merupakan  tuan rumah dan pemakarsa kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka Kota Bandung. Dalam pertemuan yang dihadiri 29 negara tersebut dicapai suatu kesepakatan yang dikenal dengan Dasa-Sila Bandung. KTT Asia-Afrika menunjukan Indonesia pernah memiliki pengaruh yang sangat kuat di mata negara-negara Asia dan Afrika.
Gedung yang merupakan saksi bisu penyelenggaraan KAA tersebut  hingga kini masih berdiri kokoh di Jalan Asia-Afrika no. 65 Bandung. Mulai dibangun pada awal 1900an berdasarkan rancangan dua arsitek berkebangsaan Belanda yaitu Van Gaken Last dan C.P. Wolff Schoemaker dengan gaya arsitektur Art Deco. Awalnya gedung tersebut bernama Sociëteit Concordia. Dipergunakan sebagai tempat rekreasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di kota Bandung dan sekitarnya.

Paska penyelenggaraan KAA tahun 1955 Gedung Merdeka telah beberapa kali mengalami alih fungsi. Kini selain difungsikan sebagai tempat pertemuan bertaraf Internasional, Gedung Merdeka juga berfungsi sebagai Museum yang memiliki banyak koleksi bersejarah. Selain memiliki koleksi foto-foto pelaksanaan KAA, Museum KAA juga memiliki sebuah perpustakaan dan sebuah ruang audio visual yang memiliki koleksi film-film dokumenter mengenai kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya, serta film-film mengenai kondisi sosial, politik, dan budaya dari negara-negara di kedua kawasan tersebut.

Memasuki Museum Asia-Afrika, anda akan menemui sebuah aula yang dahulu digunakan sebagai tempat konferensi. Aula ini terbuka bagi anda yang ingin merasakan atmosfir pelaksanaan KAA 60 tahun silam. Di sini juga terdapat beberapa patung delegasi-delegasi yang mewakili negaranya dalam KAA. Biasanya para pengunjung Museum KAA selalu menyempatkan diri untuk mengabadikan gambar bersama patung delegasi-delegasi KAA.

“Kapan lagi bisa foto bareng tokoh-tokoh dunia,” ujar Iqbal sambil mengabadikan gamar rekan-rekanya yang seang asyik berfose bersama patung delegasi-delegasi KAA kepada AdaDiskon.

Selain ruangan dalam Gedung Merdeka yang memiliki nilai historis dan koleksi benda bersejarah, bagian luar Gedung Merdeka juga memiliki keunikan tersendiri. Puluhan tiang bendera yang berderet mengelilingi Gedung Merdeka kerap dijadikan bidikan lensa kamera. Bahkan tak jarang deretan tiang bendera tersebut dijadikan latar sesi pemotretan pra-wedding.

 

Selasar Sunaryo

Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) adalah sebuah ruang dan organisasi nirlaba yang bertujuan mendukung pengembangan praktik dan pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia. Dididirikan pada tahun 1998 oleh Sunaryo, SSAS aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada edukasi publik. Dengan arahan dan dukungan dari Yayasan Selasar Sunaryo, fokus utama SSAS adalah pada penyelenggaraan program-program seni rupa kontemporer, melalui pameran, diskusi, residensi dan lokakarya.

Sebagai pusat kebudayaan, SSAS menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan disiplin-disiplin seni lain seperti desain, kriya, seni pertunjukan, sastra, arsitektur, dan lain sebagainya. Selain memajang koleksi permanen, SSAS juga menyelenggarakan pameran-pameran tunggal atau bersama yang menampilkan karya-karya para seniman muda dan senior, dari Indonesia maupun mancanegara.

Semua jenis kegiatan di SSAS—mencakup program anak-anak, konser musik, pementasan tetaer, pemutaran film, pembacaan karya sastra, ceramah dan berbagai aktivitas lainnya—dirancang berdasarkan arahan dari Dewan Pertimbangan Kuratorial yang terdiri dari para akademisi, kritikus dan praktisi seni. SSAS juga berkiprah dalam jejaring seni rupa kontemporer internasional melalui kerjasama dengan berbagai insitusi di luar negeri.

Sumber : http://www.selasarsunaryo.com

 

Taman Budaya Dago

Tempat wisata di Bandung - Salah satu kebanggaan sebagai masyarakat Indonesia adalah Indonesia memiliki budaya yang sangat beranekaragam, dari utara hingga selatan dan dari barat hingga timur budaya Indonesia menghiasi bumi pertiwi. Salah satu budaya kebanggan Indonesia adalah sebuah budaya yang berada di pulau jawa tepatnya di provinsi jawa barat, di provinsi jawa barat terkenal dengan budaya sunda-nya, berbagai jenis tarian sunda jaipongan, nyanyian sunda manuk dadali serta seni dan sanggar musik merupakan salah satu bagian dari budaya yang ada provinsi jawa barat. 

Maka atas keanekaragaman budaya diatas, dan demi menjaga kelestariannya maka dibentuklah sebuah taman budaya di kota bandung tepatnya di daerah dago selatan. Taman ini digunakan sebagai salah satu tempat untuk menyalurkan bakat-bakat anak muda khususnya anak muda yang berada di kota bandung dan umumnya seluruh anak muda Indonesia. Setiap akhir pekan di taman budaya dago ini sering diadakan pertunjukan pertunjukan kesenian sunda yang bisa wisatawan saksikan seperti tari jaipong, angklung dan lain-lain.

Sebenernya Taman Budaya Dago ini dahulu kalanya merupakan tempat bagi para penggemar kuliner dan penikmat teh, makanya dahulu tempat ini bernama Dago Tea House, tapi seiring waktu berjalan tempat ini dirubah fungsinya menjadi tempat pelatihan dan petunjukan seni budaya sunda dan sekarang namanya
menjadi Taman Budaya Dago. Pada saat ini popularitas taman budaya dago sangat menurun, Tempat ini bukan lagi menjadi salah satu tujuan utama waisatawan dalam mengunjungi tempat wisata di bandung.

Wisatawan lebih senang kalau berkunjung ketempat wisata lain yang ada di bandung seperti tempat wisata kawah putih, tangkuban perahu dan lain-lain. Namun tetap saja ada beberapa wisatawan yang mengunjungi taman budaya dago ini setiap akhir pekannya.

Uniknya, di taman budaya dago ini bukan hanya budaya sunda saja yang sering di tampilkan, tapi budaya seluruh Indonesia dan bahkan budaya mancanegara pun sering ditampilkan di tempat ini, sebut saja Goethe-
Institut, Centre Cultural Francais (CCF), Japan Foundation pernah tampil bersama seni sunda di tempat ini.

Selain unik tempat ini juga akan sangat membanggakan karena kedepannya tempat ini kan dijadikan laboratorium seni budaya Indonesia.

Fasilitas Yang ada di Taman Budaya Dago :
1. Pertunjukan Seni Budaya
2. Gedung Teater Tertutup dan Terbuka
3. Cafetaria untuk Nongkrong
4. Taman Teater
5. Galeri Seni Budaya
6. Sanggar Tari,
7. wisma seni

Selain menggelar kesenian, Taman Budaya Dago Bandung juga sering digunakan untuk acara pameran, seminar dan lain-lain. Sebagai bahan rujukan bagi yang berencana akan berwisata ke bandung tidak salah untuk mampir ke tempat ini. berwisata ditempat ini wisatawan akan mendapatkan pengetahuan tambahan di bidang seni budaya yang tentunya akan menjadi kesan tersendiri.

Demikian sedikit informasi tentang taman wisata budaya dago semoga bermanfaat.
Alamat Lengkap Jl. Bukit Dago Utara Kel. Dago, Coblong Bandung 40135 Phone: 2-22-250 5365

Sumber :http://www.tempatwisatadibandung.net/2012/07/taman-budaya-dago.html

 

Kota Tua Braga

Jalan Braga adalah nama sebuah jalan utama di kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java.

Lingkungan

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940-an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah, Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg)('sekarang Jalan Asia-Afrika') yang dibangun oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendels pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka.

 

Sejarah

J. R. de Vries & Co. di Jalan Braga, supermarket pertama di Bandung (1880)
Awalnya Jalan Braga adalah sebuah jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik karena cukup rawan, juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu seperti toko Onderling Belang. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an muncul toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model di kota Paris, Perancis yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lain-lain di beberapa blok di sekitar jalan ini juga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan ini.

Namun sisi buruknya adalah munculnya hiburan-hiburan malam dan kawasan lampu merah (kawasan remang-remang) di kawasan ini yang membuat Jalan Braga sangat dikenal turis. Dari sinilah istilah kota Bandung sebagai kota kembang mulai dikenal. Sehingga perhimpunan masyarakat warga Bandung saat itu membuat selebaran dan pengumuman agar "Para Tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah".

Di beberapa daerah dan kota-kota yang berdiri serta berkembang pada masa Hindia Belanda, juga dikenal nama jalan-jalan yang dikenal seperti halnya Jalan Braga di Bandung seperti Jalan Kayoetangan di kota Malang yang juga cukup termasyhur dikalangan para Turis terutama dari negeri Belanda juga Jalan Malioboro di Yogyakarta dan beberapa ruas jalan di Jakarta. Namun sayangnya nama asli jalan ini tidak dipertahankan atau diubah dari nama sebelumnya yang dianggap populer seperti halnya Jalan Kayoetangan di kota Malang diganti menjadi Jalan Basuki Rahmat.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Braga

 

Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu atau juga sering disebut Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung terbesar di dataran Parahyangan. Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu berada di utara kota Lembang, sebelah utara kota Bandung. Udara sejuk, hamparan kebun teh, lembah dan tingginya pohon pinus menemani perjalanan Anda menuju pintu gerbang kawasan Tangkuban Perahu.

Ada dua jalan menuju kawah-kawah yang ada di gunung ini. Jalan yang pertama atau jalan lama dengan kondisi jalan yang lebih sulit untuk dilalui dan biasanya akan ditutup sehabis hujan atau saat dirasa membahayakan untuk dilewati. Penjaga loket akan memberi petunjuk untuk melewati jalan baru yang terletak lebih ke atas jika jalan ini ditutup. Sebelum tiket pembayaran di jalan pertama ini, terdapat pondok-pondok yang disewakan untuk tempat menginap.

Melewati jalan baru, jalan beraspal memudahkan perjalanan kendaraan Anda. Pada sisi jalan yang berkelok-kelok terdapat bunga-bunga terompet dan pohon lainnya yang akan menyejukkan perjalanan Anda. Di kawasan gunung Tangkuban Perahu terdapat tiga kawah yang menarik untuk dikunjungi. Kawah tersebut adalah Kawah Domas, Kawah Ratu dan Kawah Upas. Kawah yang paling besar diantara ketiganya dan paling banyak dikunjungi adalah Kawah Ratu. Dengan beberapa jam berjalan kaki, Anda bahkan dapat mengitari Kawah Ratu yang begitu luas sambil menikmati keindahan panorama Gunung Tangkuban Perahu.

Banyak juga pedagang dan kios-kios yang siap menjual cinderamata, makanan atau minuman. Berbagai cinderamata mulai dari baju, selendang, topi, gelang/cincin, batu alam, tanaman bonsai, alat musik (angklung) hingga senjata tajam khas daerah Jawa Barat turut dijual di lokasi ini. Kedai makanan dan minuman juga tampak berderet siap melayani pembeli.

Salah satu penampilan kesenian tradisional Jawa Barat yaitu Sisingaan yang dimainkan oleh beberapa orang pria. Kesenian ini cukup menarik minat para wisatawan baik lokal dan mancanegara yang ingin langsung menyaksikannya.


KAWAH RATU

Jika Anda datang menggunakan bus, tersedia tempat parkir khusus bus sebelum mencapai Kawah Ratu. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil ELF yang akan mengantarkan Anda ke Kawah Ratu. Tetapi, jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, Anda dapat terus menggunakannya sampai ke Kawah Ratu. Tersedia tempat parkir kendaraan di seberang kawah ini, sehingga tanpa melalui medan yang sulit dan menghabiskan banyak energi, Anda dapat melihat kawah ini. Mungkin ini juga menjadi salah satu alasan, kebanyakan pengunjung ada di kawah ini.

Kawah Ratu langsung terlihat dari atas dengan pembatas pagar kayu untuk mencegah pengunjung terjatuh. Melihat dalamnya kawah, dinding-dinding kawah dan asap yang masih keluar dari kawah ini menciptakan pemandangan yang menggetarkan hati. Tanah di sekitar Kawah Ratu umumnya berwarna putih dengan beberapa batu belerang berwarna kuning. Batu-batuan dan suasana kering dan gersang terasa di kawah ini. Anda dapat mencoba mendaki ke daerah yang lebih tinggi jika ingin melihat kawasan Kawah Ratu secara menyeluruh.

Di tempat ini banyak toko-toko sederhana yang menjual berbagai souvenir seperti syal, topi kupluk, tas dan topi bulu, berbagai pajangan dari kayu dan berbagai aksesories lainnya. Ada juga penjual makanan dan minuman hangat seperti mie rebus, bandrek dan lainnya. Anda juga dapat menunggang kuda untuk mengitari sebagian kawah ini. Kegiatan ini biasanya disukai anak-anak.

KAWAH UPAS

Kawah Upas terletak di sebelah Kawah Ratu. Tetapi, untuk dapat melihat kawah ini harus melalui medan yang berbahaya, Anda harus melewati jalan yang berpasir untuk mencapai kawah ini. Maka, sangat jarang pengunjung yang datang melihat kawah ini. Bentuk Kawah Upas berbeda dengan Kawah Ratu. Kawah Upas lebih dangkal dan mendatar.

KAWAH DOMAS

Kawah Domas terletak lebih bawah daripada Kawah Ratu. Jika Anda dating melalui jalan baru, Anda akan menemukan pintu gerbang menuju Kawah Domas terlebih dahulu sebelum menuju Kawah Ratu. Jika pada Kawah Ratu Anda hanya akan melihat kawah dari kejauhan, pada Kawah Domas, Anda dapat lebih dekat dengan kawah. Bahkan, Anda dapat mencoba merebus telur dengan memasukkannya ke dalam kawah. Jika Anda ingin melihat Kawah Domas melewati jam 16.00 WIB, Anda diharuskan menggunakan jasa pemandu wisata.

MANARASA

Pohon yang banyak terlihat di sekitar kawah adalah pohon yang disebut oleh warga sekitar dengan nama Manarasa. Daun tanaman ini akan berwarna kemerah-merahan jika daun sudah tua. Daun yang sudah berwarna merah dapat dimakan dengan rasa mirip seperti daun jambu dengan sedikit rasa asam. Daun ini dapat mengobati diare dan dipercaya akan membuat awet muda. Mungkin daun ini dipercaya oleh masyarakat sekitar selalu dimakan oleh Dayang Sumbi yang awet muda dalam legenda terjadinya Gunung Tangkuban Perahu
Sumber : http://www.bandungtourism.com/tododet.php?q=Tangkuban%20Perahu

 

Trans Studio Bandung

Trans Studio Bandung adalah taman bermain di dalam ruangan terbesar di dunia yang dikelola oleh Trans Corp. Trans Studio Bandung adalah taman bermain di dalam ruangan kedua yang dibangun untuk menyusul kesuksesan Trans Studio Makassar yang dibangun pada tahun tahun 2009. Wahana yang disajikan diberi nama sesuai dengan program-program yang ada di Trans TV ataupun Trans7

Kawasan dan Wahana Permainan di Trans Studio Bandung

Studio Central
Trans City Theater
Yamaha Racing Coaster
Giant Swing
4D Simulator
Vertigo
Transcar Racing
Bolang Adventure
Trans Broadcast Museum
Trans Science Center
Trans Movie Magic
The Lost City
Jelajah
Kong Climb
Sky Pirates
Amphitheater
Black Heart's Pirate Ship
Magic Corner
Negeri Raksasa
Dragon Raiders
Pulau Liliput
Dunia Lain
Special Effect Action
Makanan dan Minuman
The Coffee Bean & Tea Leaf
Baskin Robbins
Corvette Diner
Studio Kuring
Studio Mie
Studio Steak
Trans Studio Store

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Trans_Studio_Bandung

 

Kampung Gajah

Kampung Gajah adalah sebuah tempat wisata, terletak di Jalan Sersan Bajuri km 3,8 Bandung - Lembang, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia. Kampung Gajah berdiri di atas lahan 58 hektare dan telah mempunyai izin pengembangan sampai 200 ha, berada di atas ketinggian 900 meter dari permukaan laut, mempunyai pemandangan alam yang cukup indah serta berhawa sejuk dan segar, tempat ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat wisata bersama keluarga. Dari Kampung Gajah, pengunjung dapat melihat keindahan Kota Bandung dari ketinggian.

Kampung Gajah adalah sebuah resto yang di konsepkan seperti sebuah taman bermain. Untuk menambah daya tarik tempat ini, maka disediakanlah berbagai macam fasilitas permainan yang dapat digunakan oleh orang dewasa maupun anak-anak, seperti children play, segway eco ride, body cycle, buggy, kuda dan delman, ATV. Terdapat juga permainan yang khusus untuk anak-anak, seperti teletubbies, mini Atv, big children playstructures, swing

Sumber : http://www.bandungtourism.com/todo.php

 

Jalan Dago

Jalan Dago adalah nama lama jalan Ir. H. Juanda di Bandung. Walaupun saat ini nama jalan tersebut telah diubah secara resmi, penduduk Bandung masih sering merujuk jalan itu dengan nama Dago. Sepanjang jalan ini dapat ditemui berbagai rumah makan, pusat perbelanjaan, butik, toko-toko dan pusat hiburan terkemuka. Selain itu juga terdapat Rumah Sakit Santo Boromaeus dan Institut Teknologi Bandung.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_dago

 

De'Ranch Lembang

De’Ranch memberikan nuansa baru dalam wisata alam dengan menampilkan nuansa peternakan di mana kuda masih merupakan hewan pekerja yang utama seperti di zaman cowboy.

Nikmati suasana peternakan sambil menunggang kuda dengan kostum khas cowboy, lahan hijau dan aktifitas lainnya untuk seluruh keluarga.

Ketentuan Umum De’Ranch :

1. Tidak diperkenankan untuk membawa makanan dan minuman dari luar.
2. Tidak diperkenankan membawa minuman keras, senjata api, senjata tajam, Obat terlarang ke lokasi wisata De’Ranch.
3. Binatang peliharaan yang dibawa harus dalam pengawasan pemilik (diikat), bilamana binatang peliharaan yg di bawa membuang

    kotoran agar dapat langsung dibersihkan oleh pemilik-nya.
4. Menjaga kebersihan selama berada pada lokasi De’Ranch dan membuang sampah pada tempatnya.
5. Tidak diperkenankan membawa permainan yang dapat membahayakan / mengganggu pengunjung lain dan binatang ternak, seperti

     layangan, permainan yang menimbulkan suara bising/keras, senjata mainan berpeluru, permainan dengan alat kontrol jarak jauh.
6. Kendaraan diparkir pada tempat yang sudah disediakan.
7. Kegiatan pemotretan ataupun video shooting untuk keperluan khusus atau komersial harus mendapatkan izin dari pihak manajemen

     De’Ranch dan akan dikenakan biaya sewa tempat.
8. Mohon perhatiannya pada saat berada diarea kuda, bahwa kuda dapat menendang dengan kaki belakang dan juga kaki depan, serta

     kuda dapat pula menggigit. Jaga jarak aman, tidak menghampiri kuda dari arah belakang dan tidak melakukan gerakan yang

     mengejutkan selama berada dekat dengan kuda.
9. Bagi orang tua agar tetap mengawasi aktivitas putera-puterinya dan mengikuti petunjuk dari petugas De’Ranch. Segala bentuk resiko

    yang mungkin terjadi di luar tanggung jawab De Ranch dan menjadi tanggung-jawab masing-masing sepenuhnya .

Sumber : http://deranchlembang.com/id/

 

Rumah Strawberry

Strawberry, hmm buah yang segar, juicy, rasanya yang gereget, manis agak asem asem seger dan juga bentuk dan warna yang cantik membuat banyak orang menyukai buah asal paman sam ini. Nah, di Bandung menyediakan ribuan strawberry yang dikemas dalam suatu perkebunan, ya Kebun Strawberry Bandung lahan luas yang dipenuhi tanaman strawberry yang ditanam didalam polibag yang buahnya berwarna cantik menggelayut menggoda setiap pengunjung untuk memetiknya, perkebunan tersebut berada di ketinggian sekitar 1000m dpl, sangat cocok untuk lahan perkebunan dengan diimbangi udara yang sejuk, di Bandung terdapat dua kawasan kebun strawberry yaitu di daerah Lembang dan Ciwidey.

Kebun Strawberry Bandung menghadirkan konsep yang akan memuaskan para pengunjung yaitu ‘Strawberry Walk’ dimana pengunjung dapat memetik langsung strawberry yang diiginkan, selain adanya sistem strawberry walk di Kebun Strawberry Bandung juga biasanya menyediakan arena bermain untuk anak sehingga tempat agrowisata ini sangat tepat untuk berlibur bersama keluarga saat week-end.

Kebun Strawberry Bandung yang dapat dikunjungi di sekitar Lembang ada di kawasan;
• Cihideung (Rumah Strawberry),
• Kayu Ambon,
• Disekitar jalan menuju objek wisata Maribaya Bandung,
• Disekitar jalan menuju objek wisata Gunung Tangkuban Perahu Bandung.

Sedangkan di sekitar Ciwidey kebun strawberry nya lebih luas, terdapat di kawasan;
• Di sekitar Objek wisata Situ Patenggang Bandung,
• Jalan menuju Kawah Putih Bandung,
• Kebun Strawberry Rancabali,
• Kebun Strawberry Pasirjambu.


Di Kebun Strawberry Bandung pengunjung selain dapat memetik langsung buah dari pohonnya juga dapat membawa pulang kerumah. Buah Strawberry selain dapat dimakan langsung juga bisa diolah lagi menjadi Selai Strawberry, Ice Cream, Juice dan lain sebagainya. Di sekitaran perkebunan tersebut terdapat juga lho para penjual strawberry yang sudah dibungkus dan macam-macam makanan lain, Di kawasan Ciwidey para pengunjung dari atau diluar Bandung pasti tidak akan lengkap rasanya bila tidak berkunjung dulu ke kebun Strawberry karena strawberry sudah menjadi salah satu ciri khas daerah Ciwidey.

Sumber : http://bandung.jacktour.com/2011/04/kebun-strawberry-bandung.html

 

Lembang

Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia.
Kecamatan Lembang berada pada ketinggian antara 1.312 hingga 2.084 meter di atas permukaan laut. Titik tertingginya ada di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Sebagai daerah yang terletak di pegunungan, suhu rata-rata berkisar antara 17°-27 °C. Penduduk Lembang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani, pedagang, pekerja sektor informal (buruh, pengemudi, dan sebagainya).
Di kecamatan ini terdapat Observatorium Bosscha, serta berbagai tempat wisata seperti Gunung Tangkuban Perahu, pemandian Maribaya, Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Dago Pakar), dan lain-lain.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Lembang

 

Pabrik Koffie Aroma

Anda penikmat kopi dan ingin mencicipi kopi buatan pabrik zaman dulu? Coba deh kopi pabrik AROMA. Letaknya ada di Jalan Banceuy No 51 Bandung, persis di pertigaan Jalan Pecinan Lama. Saya sering melewati Jalan Banceuy ini kalau mau ke Pasar Baru. Bila melewati jalan ini, lihatlah di sebelah kiri ada bangunan kuno yang tertulis Pabrik Kopi AROMA. Bangunan ini berada di antara toko onderdil dan toko bahan bangunan. Kawasan dekat sini memang kawasan pecinan. Aneh juga saya ini, sering lewat tetapi tidak mampir, padahal bau kopi harum selalu tercium setiap kali melewati bangunan ini. Akhirnya, karena penasaran, beberapa hari yang lalu saya sengaja berhenti di depan pabrik kopi peninggalan zaman doeloe yang masih eksis hingga sekarang.

Menurut data yang saya baca di beberapa sumber, pabrik kopi ini sudah ada sejak tahun 1930-an dan merupakan usaha turun temurun dari seorang Tionghoa yang bernama Tan Houw Sian.

Yang tanpak dari jalan raya itu adalah outletnya (toko), tetapi sebenarnya di belakangnya lebih luas lagi sebab di sana terdapat gudang kopi dan pabrik kopi, seperti foto di bawah ini yang memperlihatkan pemilik generasi kedua menerima kunjungan rombongan wisatawan domestik (foto ini diambil dari sini, karena saya tidak bisa masuk ke dalam):

Hmmm… apa yang menyebabkan kopi Aroma ini istimewa dan sudah kesohor? Tentu saja karena rasa enaknya, apalagi. Rasa kopi yang enak disebabkan oleh proses penyimpanan. Biji kopi yang sudah dibeli dan telah dibersihkan tidak langsung digiling, tetapi disimpan dulu di dalam karung selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun? Benar. Tujuan penyimpanan yang begitu lama adalah untuk mengurangi keasaman (acidity) pada kopi. Makin kurang rasa asam, makin nikmat rasa kopi, itulah rahasia kopi Aroma. Kesabaran menunggu waktu yang lama rupanya memberikan hasil yang terbaik.

Masuk ke dalam toko membuat kita seolah terlempar ke masa lalu. Di dalam toko dipajang mesin kopi zaman klasik dan botol-botol besar yang menyiratkan kekunoan. Mesin-mesin itu masih berfungsi dan dijalankan dengan listrik.

Ini kesibukan para karyawan membungkus kopi:


Kopi yang dijual di toko ini ada dua macam, yaitu kopi arabica dan kopi robusta. Kopi arabica baunya harum dan rasa kopinya lebih ringan, sedangkan kopi robusta lebih kuat rasa kopinya dan menyebabkan efek sulit tidur. Pembeli juga dapat memesan kopi dengan campuran yang dia inginkan dan langsung diproses saat itu.

Biji kopi yang dipamerkan di etelase toko:

Nah, saya membeli kemasan 250 gram kopi mokka arabica yang harganya Rp14.000. Bubuk kopi dibungkus dengan kemasan kantong kertas yang luarnya dilapisi plastik.

Pada bungkus kemasan tersebut terdapat tulisan dengan ejaan lama yang sudah digunakan sejak tahun 30-an:

Maoe minoem Koffie
selamanja enak?
Aromanja dan rasanja
tinggal tetep, kaloe ini
koffie soeda di boeka
dari kantongnya harep di
pindahken di stofles
atawa di blik jang ter-
toetoep rapet.

Djangan tinggal
di kantong!

Sumber : http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/02/25/nikmati-koffie-fabriek-aroma-kopi-tempo-doeleo-dari-bandung/

 

Kebun Binatang Bandung

Kebun Binatang Bandung, sebelumnya dinamakan Jubileumpark pada saat pendiriannya pada masa penjajahan Belanda tahun 1930 dan peresmiannya pada tahun 1933 oleh Bandung Zoological Park dan dikenal pula dengan nama Botanic Zoo,  Pada tahun 1956, diganti dengan nama Yayasan Marga Satwa Tamansari pada akhirnya dikenal dengan sebutan Derenten yang dalam bahasa Sunda artinya Kebun Binatang. Kebun binatang Bandung awalnya merupakan gabungan dari kebun binatang Cimindi dan Dago karena kedua lokasi tersebut tidak memungkinkan lagi untuk menampung satwa dan tempat rekreasi.

Nama Tamansari saat ini dikenal sebagai nama jalan disekitar Kebun Binatang Bandung, bersebelahan dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dekat dekngan Taman Ganesha Bandung. Selain satwa di Kebun Binatang Bandung tersedia arena permainan anak-anak, kolam perahu angsa dan Flying Fox. Selain itu ada ruangan seperti museum Satwa yang diawetkan serta Gajah dan Unta tunggang untuk pengunjung.

Seperti kebun binatang di kota besar lainnya, Kebun Binatang Bandung selalu dipadati pengunjung pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional. Harga tiket masuk mengalami kenaikan cukup cepat, saat ini harga tiket masuk diatas umur 3 tahun adalah Rp. 12.000 hari biasa dan Rp. 15.000,- akhir pekan dan hari libur, harga tiket masuk wahana anak-anak sekitar Rp.10.000,-

Berbagai jenis burung, termasuk Merak bisa dilihat di Kebun Binatang Bandung, selain itu terdapat satwa beruang, komodo, gajah, harimau, tapir, kijang, unta,  zebra, buaya muara (Crocodylus porosus) dan primata, diantaranya adalah Siamang (Hylobates Sydactylus) primata jenis langka yaitu Presbytis Comata atau species primata endemi Jawa Barat yang diberitakan terancam punah.

Lebih kedalam terdapat koleksi satwa ular dan reptil. Satwa dari luar negeri yang dipelihara disini seperti beruang coklat, jaguar, harimau Benggala, unta, Zebra dan Kera Jepang. Dibandingkan dengan Kebun Binatang Ragunan Jakarta, koleksi satwa di kebun binatang Bandung hanya sekitar 1800 ekor saja dari 220 jenis satwa.

Di sekitar Kebun Binatang Bandung juga terdapat tujuan wisata belanja lain yaitu Kebun Seni (Pasar Seni Tamansari) dan pusat perbelanjaan Cihampelas. Tidak sulit mencapai kebun binatang Bandung, karena berada dekat pusat kota dan pusat belanja serta dilalui banyak kendaraan umum karena berdekatan dengan kampus.

Sumber : http://kebunbinatang.org/kebun-binatang-pulau-jawa/kebun-binatang-bandung/#&panel1-1

Share
Go to top